Minggu, 25 Agustus 2013

welcome back my blogs

Diabetes Melitus



1.1.1.      Definisi Diabetes
Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
Diabetes merupakan golongan dari penyakit metabolik dengan karakteristik glukosa darah yang tinggi yang merupakan hasil dari kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau bahkan keduanya (ADA, 2012).
1.1.2.      Klasifikasi Diabetes
Berdasarkan etiologinya diabetes melitus digolongkan menjadi 4 golongan utama yaitu: (ADA, 2012)
I.         Diabetes Tipe I
Penyebab diabetes tipe I ini yaitu: mediassi sistem immun, dan ideopatik.
II.      Diabetes Tipe II
III.   Diabetes Tipe Lain
Diabetes tipe lain ini merupakan diabetes yang disebabkan oleh berbagai penyebab lainnya yaitu: (ADA,2012)
a.       Defek genetik fungsi sel beta pankreas
b.      Defek genetik kerja insulin
c.       Penyakit eksokrin pankreas
d.      Endokrinopati
e.       Karena obat atau zat kimia
f.       Infeksi
g.      Sebab imunologik yang jarang
h.      Sindrome genetik lain yang berkaitan dengan Diabetes.
IV.   Diabetes Gestational

1.1.3.      Epidemiologi
Berdasarkan data dari International Dabetes Federation (IDF) pada tahun 2011,  10  negara dengan penderita diabetes umur 20-79 tahun terbanyak yaitu China (90,0 juta), India (61,3 juta), dan USA (23,7 juta), Russian Federation (12,6 juta), Brazil (12,4 juta), Jepang (10,7 juta) Mexicco (10,3 juta), Banglades (8,4 juta), Mesir (7,3 juta), dan Indonesia (7,3 juta). Diperirakan pada tahun 2030 penderita diabetes akan terus meningkat yaitu China (129,7 juta), India (101,2 juta), USA (29,6 juta), Brazil (19,6 juta), Bangladesh (16,8 juta), Mexico (16,4 juta), Russia (14,1 juta), Mesir (12,4 juta), Indonesia (11,8 juta), dan Pakistan (11,4 juta). (IDF, 2011)
Laporan dari hasil penilitian di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan pada dekade 1980-anmenunjukkan sebaran prevalensi DM tipe2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai 6,1% yang didapatkan di Manado. Hasil penelitian pada rentang tahun1980-2000 menunjukkan peningkatan prevalensi yang sangat tajam. Sebagai contoh, pada penelitian di Jakarta (daerah urban), prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 naik menjadi 5,7% pada tahun 1993 dan meroket lagimenjadi 12,8% pada tahun 2001. (PERKENI, 2011)
Berdasarkanlaporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan, menunjukkan bahwa prevalensi DM di daerah urban Indonesia untukusia di atas 15 tahun sebesar 5,7%. Prevalensi terkecil terdapatdi Propinsi Papua sebesar 1,7%, dan terbesardi Propinsi Maluku Utara dan Kalimanatan Barat yang mencapai 11,1%. Sedangkan prevalensi toleransi glukosa terganggu (TGT), berkisar antara 4,0% di Propinsi Jambi sampai 21,8% di Propinsi Papua Barat (PERKENI, 2011).Dinas kesehatan Kota Palu tahun 2008 melaporkan bahwa prevalensi jumlah kasus Diabetes Melitus Tipe 2 di Kota Palu yaitu sebanyak 6.031 kasus (16,40%). (Dinkes Kota Palu, 2008)

1.1.4.      Patogenesis
Kerusakan sel beta pankres atau penyakit-penyakit yang mengganggu produksi insulin dan dapat menyebabkan timbulnya diabetes tipe I. Infeksi virus atau kelainan autoimun dapat menyebabkan kerusakan sel beta pankreas pada banyak pasien diabetes tipe I, meskipun faktor herediter juga berperan penting untuk menentukan kerentanan sel beta terhadap gangguan tersebut. Pada beberapa kasus kecenderungan faktor herediter dapat meneyebabkan degenerasi sel beta bahkan tanpa adanya infeksi atau kelainan autoimun.
Diabetes tipe II berbeda dengan diabetes tipe I, dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi insulin plasma. Hal ini terjadi akibat upaya kompensasi oleh sel beta pankreas terhadap penurunan sensitivitas jaringan terhadap efek metabolisme insulin. Penurunan sensitivitas insulin menyebabkan gangguan penggunaan dan penyimpanan karbohidrat, yang akan meningkatkan kadar gula darah dan merangsang peningkatan dan upaya kompensasi.

1.1.5.      Faktor Resiko
       Setiap orang memiliki satu atau lebih faktor resiko diabetes dan sepatutnya waspada bahwa kemungkinan terkena penyakit diabetes melitus. Faktor-faktor resiko yang dapat meningkatkan tingkat kejadian diabetes khususnya diabetes tipe 2 yaitu: (Ditjen Bina Kefarmasian  dan Alat Kesehatan, 2005)
Tabel 1. Faktor resiko diabetes
Riwayat
Diabetes dalam keluarga
Diabetes Gestasional
Melahirkan bayi dengan berat badan >4 kg
Kista ovarium (Polycystic ovary syndrome)
IFG (Impaired fasting Glucose) atau IGT (Impaired glucose tolerance)
Obesitas
>120% berat badan ideal
Umur
20-59 tahun : 8,7%
> 65 tahun   : 18%
Hipertensi
>140/90mmHg 
Hiperlipidemia
Kadar HDL rendah <35mg/dl
Kadar lipid darah tinggi >250mg/dl
Faktor-faktor Lain 
Kurang olah raga
Pola makan rendah serat 

1.1.6.      Manifestasi Klinik
Diabetes seringkali muncul tanpa gejala. Namun demikian ada beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai isyarat kemungkinan diabetes. Gejala tipikal yang sering dirasakan penderita diabetes antara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (banyak makan/mudah lapar). Selain itu sering pula muncul keluhan penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan atau kaki, timbul gatal-gatal yang seringkali sangat mengganggu (pruritus), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas. (Ditjen Bina Kefarmasian  dan Alat Kesehatan, 2005)

1.1.7.      Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh  (whole  blood),  vena, atau pun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes.
Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah ini: (PERKENI,2011)
·         Keluhan klasik DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
·         Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita

Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara: (PERKENI,2011)
1.      Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM 
2.      Pemeriksaan gluokosa plasma puasa  ≥ 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik. 
3.      Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Meskipun TTGO dengan beban 75g glukosa lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun  pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus.

1.1.8.      Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes. (PERKENI,2011)
·         Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa nyaman, dan mencapai target pengendalian glukosa darah.
·         Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati, makroangiopati, dan nefropati.
·         Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas Diabetes melitus.
Penatalaksanaan diabetes ada dua yaitu terapi non-faramakologis dan terapi farmakologis.
1.      Terapi non-farmakologis
Terapi non-farmakologis ini meliputi perubahan gaya hidup dengan melakukan pengaturan pola makan yang dikenal sebagai terapi gizi medis, meningkatkan aktivitas jasmani, dan edukasi mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan penyakit diabetes melitus secara terus menerus. (IPD FKUI Ed. V, 2009)
2.      Terapi farmakologis
Kegagalan pengendalian glikemia pada diabetes melitus setelah melakukan perubahan gaya hidup memerlukan intervensi farmakoterapi agar dapat mencegah terjadinya komplikasi diabetes atau paling sedikit dapat menghambatnya. Untuk mencapai tujuan tersebut sangat diperlukan peran serta pengelola kesehatan di tingkat pelayanan kesehatan primer. Pedoman pengelolaan diabetes sudah ada dan disepakati oleh pakar diabetes di indonesia dan dituangkan dalam suatu Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia yang disebarluaskan sejak tahun 1994. ( IPD FKUI Ed. V, 2009)
Bagan 1. Algoritma pengelolaan diabetes tipe 2 dengan komplikasi
Bagan 1. Algoritma pengelolaan diabetes tipe 2 tanpa komplikasi

1.1.9.      Komplikasi
Diabetes melitus yang tidak ditangani secara tepat dan cepat akan menimbulkan komplikasi, baik komplikasi akut maupun kronik. Komlikasi akut maupun kronik yang dapat timbul antara lain: (PERKENI, 2011)
a.       Komplikasi Akut
Komplikasi akut yang timbul akibat dari diabetes melitus antara lain: Ketoasidosis Diabetik (KAD), Hiperosmolar non ketotik (HNK), dan Hipoglikemia.
b.      Komplikasi Kronik
Komplikasi kronik akibat dari diabetes dibagi atas dua yaitu mikro dan makroangiopati.

1.1.10.  Pencegahan
Pencegahan diabetes terbagi atas dua yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier. (PERKENI, 2011)
1.      Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa.
2.      Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM. Dilakukan dengan pemberian pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit sejak awal pengelolaan penyakit DM. Dalam upaya pencegahan sekunder program penyuluhan memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan dan dalam menuju perilaku sehat. 
3.      Pencegahan Tersier
·         Pencegahan tersier  ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.
·         Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Sebagai contoh aspirin dosis rendah (80-325 mg/hari) dapat diberikan secara rutin bagi penyandang diabetes yang sudah mempunyai penyulit makroangiopati.
·         Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.

Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan holistik dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan. Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin (jantung dan ginjal, mata, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi, podiatris, dll.) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier.